Prajabatan
Prajabatan, prajab, atau LPJ (Latihan Prajabatan) adalah kewajiban dan bekal awal seorang CPNS untuk meniti karirnya, dimanapun daerah dan instansi bertugas. Sebuah batu yang mesti diloncati.
Tahun 2011, Pusat Pendidikan dan Latihan BPS RI ternyata dalam proses renovasi dan tidak menerima peserta prajabatan dalam jumlah yang banyak. Itulah mengapa saya dan kawan-kawan, CPNS BPS angkatan 2010 dari Sumatera Barat tidak bisa berkunjung ke Lenteng Agung, Jakarta dalam rangka diklat prajabatan.
Dialihkan ke Badan Diklat Provinsi Sumatera Barat menjadi suatu hal yang patut disyukuri. Bukan karena masih di tanah kelahiran, tapi karena berjumpa dengan rekan-rekan instansi selain BPS dilingkungan Pemerintah Kota Bukittinggi, Padang dan Universitas Sutan Syarif Kasim Riau. Ganti ini cukup setara dengan perjumpaan sesama rekan BPS senusantara.
Sisi lain, dari segi latar belakang widyaiswara yang memfasilitasi diklat prajabatan, adalah mereka begitu mempesona. Seolah cendikiawan minang rasanya. Ya, saya beruntung dididik oleh para W.I yang kental perpaduan teori dan falsafah Minangkabau. Cocok sekali, kami yang bertugas di ranah Minang dididik oleh orang Minang untuk melayani masyarakat Minangkabau selepasnya. Tentu ini menjadi nilai lebih tersendiri bagi kami.
Latihan Prajabatan tidak menghasilkan apa-apa selain pembentukan karakter. Sebagian besar materi hanyalah stimulus mengarahkan peserta menggapai potensi dan kompetensinya. Sedangkan sebagian kecilnya adalah murni pengetahuan dasar seorang PNS. Semua materi prajabatan sama kualitasnya se-Indonesia, disusun dan disempurnakan oleh Lembaga Administrasi Negara. Timbul suatu pertanyaan besar. Demikian baiknya sistem pendidikan semua calon pegawai negeri, mengapa masih banyak terjadi ‘hal-hal yang demikian’ ???
Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Ternyata cerita punya cerita, metode diklat di setiap tempat tidaklah seragam, baik dalam segi aturan dan jangka waktu. Mungkin disinilah ditemukan ada metode diklat yang santai tapi berarti dan ada juga yang sebaliknya. Diklat yang saya jalani termasuk jenis pertama. Serasa kembali ke sekolah, sesuatu yang mungkin dirindukan setiap orang. Sebagai contoh, kami tidak membuat resume di saat lelah melanda di setiap malam. Sebaliknya waktu yang tersisa kami dapat gunakan untuk berolahraga dengan fitness yang disediakan, nonton bola dengan satpol PP, rekreasi walaupun tidak jauh dan merayakan ulang tahun. Raso-raso sakolah bana


Sementara rekan-rekan saya ditempat (daerah) yang lain berbagi kisah kalau mereka setiap harinya harus membuat resume, selesai kelas jam 9 malam, baris-berbaris sebelum makan, apel pagi dan malam, dilarang merokok kapanpun dan dimanapun dan sebagainya. Benar-benar berbeda meskipun tujuannya sama. Tentu ada kelebihan dan kekurangan masing-masing.

24 hari bersama. Singkat memang (meski ada juga yang minta ampun), namun inilah pengalaman yang sangat berkesan namun tidak ingin terulang. Karena… yang mengulang adalah yang tidak lulus. Dan alhamdulillah kami semua lulus, entah kapan bisa berjumpa selengkap itu lagi. Semoga di diklat PIM IV.


