Duka Suka PPLS 2011
Ada lagi yang baru, dan agak sensitif. Dia bernama PPLS (Program PerLindungan Sosial) 2011. Singakatannya agak maksa gitu, tapi bersahabat dengan audio saya pribadi. Resminya, PPLS dilaksanakan dari pertengahan Juli sampai pertengahan Agustus 2011 dan merupakan rangkaian terbaru dari saudara tuanya, BLT 2008, namun kali ini tanpa Bantuan Langsung Tunai yang menggemparkan itu. Sasaran pendataan ini adalah rumah tangga menengah ke bawah, bukan rumah tangga miskin saja.
Ada yang menarik di Kepulauan Mentawai ini wa bil khusus untuk PPLS 2011. Sudah barang tentu penduduk yang mayoritas berada jauh dari pusat pemerintahan, perekonomian dan pembangunan berskala besar akan cenderung, secara ciri-ciri properti fisik, dikategorikan menengah ke bawah. Padahal penduduk terbiasa bertahan dengan biaya hidup yang sangat tinggi. Alhasil, lebih dari 90% dari sekitar 14 ribuan rumah tangga menjadi responden kegiatan ini. Menyebar di kabupaten terluas ini dengan tidak merata, sungguh sebuah tugas yang menggiurkan bagi para PCL (Petugas Cacah Lapangan).
Demikian cuaca yang mulai beranjak ekstrim dari pertengahan hingga akhir tahun, menciptakan duka suka tersendiri bagi para PCL yang bekerja mendata hampir seluruh rumah tangga setiap dusun, setiap desa lintas laut berbadai dan dana yang ditalangi sendiri terlebih dahulu. Lengkap dengan keterlambatan honor yang belum dapat dibayarkan penuh hingga hari ini (10 Nov 2011). Saya akan berat bertemu jika tidak menunjukkan suatu bukti bahwa administrasi pusat memang belum tuntas.
Terkhusus untuk PCL dari pantai-pantai barat, desa Sagulubbek, telah dipenuhkan honornya dengan dana lain saat jumpa kedua (penyerahan dokumen pencacahan), mengingat pantai barat tidak dapat ditempuh sering-sering sesuka hati kalau ada panggilan ini itu. Berbahaya. Saya terus terang sampai saat ini belum berani 100%. Makanya, metode ini semati-mati angin adalah yang terbaik tanpa bermaksud membeda-bedakan PCL-PCL yang sama-sama kita cintai.
Semestinya, demi efisiensi pekerjaan dan kehematan dana dan mengingat angka 90%-an, saya lebih setuju pendataan dilakukan pada rumah tangga mampu saja. Namun, tentu saja ada metodologi yang benar dan secara statistik, layak. Meskipun akan mengubah kata SUKA DUKA menjadi DUKA SUKA.
Keep on fighting !!!
ppls sudah dientrkan tapi kok belum cair-cair>>>>>>>>>>dah telat beberapa buLan nich_____________________________________________
Iya betul sekali…… nasib kita sama-sama teraniaya pak, kami pun belum ada menerima honor sebagai pelaksana kegiatan, di Mentawai pula.
Memang ini jadi masalah bagi petugas PPLS di seluruh Indonesia, dikarenakan ada peralihan administrasi ke kementrian keuangan.