Mahasuci Allah yang telah menjadikan manusia berbeda-beda dalam memahami Islam. Dengannya, aku dapat menikmati suasana berislam yang berbeda dari setiap tempat dan sudut waktu. Ketika di kampung, ketika di kampus, ketika di daerah orang lain, ketika di rumah sendiri, semuanya merefleksikan betapa Islam begitu kaya dan luas jika kita dapat memposisikan diri bukan sebagai orang yang “sok tahu” dengan Islam, melainkan orang yang mampu membandingkan dan menganalisa perbedaan itu.
Wah… kata-kataku kok berat gitu ya ???
Sahabat,
Sejujrnya aku melihat fenomena Islam seakan diposisikan layaknya obat. Tapi obat di pasaran. bagaimana obat di pasar ? mari dilihat dari berbagai properti
1. Tukang obatnya
Tukang obat di pasar berkoar-koar mencari dan memadukan kata-kata terbaik dan paling menjual agar obatnya laku. Mungkin dengan retorika layaknya sales obat profesional atau dengan kata-kata sekenanya tapi power suara dan gaya yang dahsyat. Tapi Allahu’alam apakah obatnya udah terdaftar, teruji atau manjur atau tidak.
Pernah lihat da’i kayak gitu ? I am sure you have seen such people.2. Yang akan beli obat
Selalu ada kerumunan di sekitar tukang obat di pasar. Calon pembeli menyimak saja apa yang disampaikan tanpa 100 % yakin dengan obralan si tukang obat. Jumlahnya banyak, namun jika ditest berapa orang yang mampu mengulas kembali nama obat, khasiat obat, harga obat dll, mungkin hanya beberapa orang saja.
Pernah lihat jema’ah kayak gitu? Most of us3. Obatnya
Obat yang dijual kebanyakan racikan sendiri, nggak tedaftar, nggak diakui BP POM dan seabrek invaliditas lainnya. Obatnya relatif murah namun jika dibeli dan dikonsumsi tidak berkhasiat banyak atau sama sekali tidak berkhasiat atau nambah penyakit. Akhirnya dibuang.
Pernah lihat/dengar materi da’wah Islam/ceramah/dll kayak gitu ? Udah menjamur.
Inilah fenomena. aku pikir, hal ini terjadi karena kita kebanyakan tidak proaktif dalam berislam. Maunya dikasih ceramah setiap waktu, tanpa keinginan lebih untuk membaca. Maunya bertanya dan selalu konsultasi dengan Ustadz tanpa praktek dan aktualisasi yang nyata.
Sahabat,
aku ingin melihat Islam diposisikan sebagai obat. Tapi obat di apotek. Obat yang memang dibutuhkan karena jelas penyakit dan seabrek penjelasan ilmiah untuk obat nya. Meskipun dokter/apoteker yang menjelaskan tanpa retorika, tulisannya jueleek abiss, namun kita butuh. Kita pasti menyimak dengan sangat baik dan mengerti sedikit demi sedikit penjelasan medis yang seharusnya sulit untuk kita pahami. Ada aturan dan konsumsi yang jelas. Obat terdaftar dan teruji.
Udah lah… mudah-mudahan semuanya berubah jika kita mau
Beniat
menjadi
seorang
intelek
dalam
berislam
Orang go-blog bikin blog... yah beginilah jadinya :P
Berturut-turut dari kiri : Firlan, Didi dan Ade (semuanya matematika '06).... makanya kalo foto ati-ati
Akh,nice post…
mau minta ijin copas…buat di milis kampus
Yah… orang yang berbicara kebenaran harus membawa bukti yang kuat. Siapa saja yang menawarkan obat dengan hanya dengan “kembang-kembang” saja hanya akan dilirik oleh mereka yang kurang kuat.